Langsung ke konten utama

Penyakit ‘Ain dalam Islam

Penyakit ‘Ain dalam Islam: Pengertian, Dalil, Kisah Hadis, dan Cara Mencegahnya

Cara Menghindari Penyakit ‘Ain

Penyakit ‘Ain dalam Pandangan Islam

1. Pengertian Penyakit ‘Ain

1.1 Makna ‘Ain Secara Bahasa

‘Ain (العين) secara bahasa berarti mata. Dalam konteks syariat Islam, makna ini berkaitan dengan pengaruh pandangan mata yang keluar dari jiwa seseorang.

1.2 Pengertian Penyakit ‘Ain Menurut Islam

Penyakit ‘ain adalah dampak buruk yang menimpa seseorang atau sesuatu akibat pandangan mata yang disertai kekaguman, iri, atau hasad. Dampak tersebut dapat terjadi meskipun pandangan itu muncul sebelumnya, sementara pada saatnya seseorang hanya mengungkapkan pujian, baik disengaja maupun tidak disengaja, tanpa disertai doa keberkahan, sedangkan pihak yang mendengar pujian tersebut juga tidak menanggapinya dengan doa keberkahan seperti mengucapkan MasyaAllah, yang dapat dilanjutkan dengan lafaz lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘aẓīm.

Islam mengakui keberadaan ‘ain dan menjelaskannya secara tegas dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Al-‘ainu haqq.”

“Penyakit ‘ain itu benar adanya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa ‘ain bukan mitos, melainkan bagian dari perkara ghaib yang nyata dan diakui dalam ajaran Islam.

1.2.1 Kedudukan ‘Ain dalam Aqidah Islam

Dalam aqidah Islam, ‘ain termasuk perkara ghaib yang wajib diimani karena ditetapkan oleh nash yang sahih. Pengaruh ‘ain terjadi semata-mata dengan izin Allah, bukan karena kekuatan manusia itu sendiri.

1.3 Karakteristik Penyakit ‘Ain

Seseorang yang terkena penyakit ‘ain umumnya tidak langsung merasakan dan tidak menyadari bahwa dirinya sedang terkena gangguan tersebut. Gejalanya sering muncul secara tiba-tiba tanpa sebab yang jelas, sehingga penderita tidak mengetahui bahwa gangguan tersebut berasal dari pandangan ‘ain.

1.4 Sikap Seorang Muslim terhadap ‘Ain

Rasa takut terhadap penyakit ‘ain tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghindari kebaikan, seperti enggan berbagi, menahan sedekah, atau menyembunyikan nikmat secara berlebihan.

Seorang muslim dianjurkan untuk meluruskan niat dalam berbagi semata-mata karena Allah, disertai doa, zikir, dan tawakal, agar tidak berlebihan dalam rasa takut terhadap pandangan manusia.

2. Siapa yang Terkena Penyakit ‘Ain?

2.1 Korban Penyakit ‘Ain

Yang terkena penyakit ‘ain adalah pihak yang dilihat, baik manusia maupun benda, bukan orang yang melihat.

Dengan kata lain, dampak ‘ain selalu mengenai objek pandangan, bukan subjek yang memandang.

2.2 Pelaku ‘Ain

Pelaku ‘ain adalah orang yang memandang sesuatu dengan rasa kagum, iri, atau dengki, terutama apabila pandangan tersebut tidak disertai doa keberkahan.

2.2.1 Perbedaan Pelaku dan Korban ‘Ain

Penegasan penting dalam memahami penyakit ‘ain:

  • Pelaku ‘ain (al-‘āin) adalah orang yang melihat.
  • Korban ‘ain (al-ma‘īn) adalah orang atau benda yang dilihat.

Pelaku dan korban adalah dua pihak yang berbeda, dan tidak boleh disamakan.

3. Apakah ‘Ain Hanya Menimpa Manusia?

3.1 Objek yang Bisa Terkena ‘Ain

Penyakit ‘ain tidak hanya menimpa manusia. Dengan izin Allah, ‘ain dapat mengenai berbagai objek, baik yang bernyawa maupun tidak bernyawa.

  • Orang, sehat mendadak sakit, kuat tiba-tiba lemah, atau jatuh tanpa sebab medis jelas
  • Orang saleh
  • Anak-anak, dipuji karena fisiknya menarik, lucu, sehat, atau tampak menonjol dibanding anak lain.
  • Hewan, dipuji karena gemuk atau bagus, lalu mendadak sakit atau mati
  • Tanaman
  • Rumah
  • Kendaraan
  • Harta benda (kebun) dan usaha

3.1.1 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Contoh yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari antara lain: barang menjadi cepat rusak, usaha mendadak sepi, atau hasil kerja mengalami penurunan setelah mendapatkan pujian atau kekaguman tanpa doa keberkahan.

3.2 Contoh Dampak Penyakit ‘Ain

Beberapa contoh kejadian yang dapat termasuk dampak ‘ain, apabila terjadi setelah pandangan kagum atau iri, antara lain:

  • Anak tiba-tiba sakit tanpa sebab medis yang jelas
  • Usaha mendadak sepi atau bangkrut
  • Barang cepat rusak setelah dipuji
  • Hewan mati secara mendadak

4. Jika yang Dilihat Benda, Siapa yang Terkena ‘Ain?

Pertanyaan penting yang sering muncul: jika seseorang melihat atau mengagumi suatu benda, lalu siapa yang terkena penyakit ‘ain?

Jawaban yang benar menurut pemahaman Islam adalah:

➡️ Yang terkena ‘ain adalah benda yang dilihat,
❌ bukan orang yang melihat.

4.1 Contoh Kasus

  • Seseorang kagum pada sebuah mobil → mobil tersebut bisa mengalami kerusakan
  • Seseorang kagum pada rumah → rumah tersebut bisa mengalami masalah
  • Seseorang kagum pada dagangan → dagangan menjadi sepi atau rusak

Orang yang melihat tidak otomatis terkena penyakit ‘ain. Dampak ‘ain selalu mengenai objek yang menjadi sasaran pandangan.

4.2 Penjelasan Menurut Syariat

Jika seseorang melihat atau mengagumi suatu benda, maka yang terkena penyakit ‘ain adalah benda yang dilihat tersebut, bukan orang yang melihatnya.

Hal ini sesuai dengan kaidah bahwa dampak ‘ain selalu mengenai objek pandangan, bukan subjek yang memandang.

4.2.1 Kesalahpahaman yang Sering Terjadi

Kesalahpahaman yang sering terjadi di tengah masyarakat adalah anggapan bahwa orang yang melihat atau memuji akan otomatis terkena penyakit ‘ain.

Anggapan ini keliru, karena menurut syariat, orang yang melihat disebut sebagai pelaku ‘ain, sedangkan yang terkena dampaknya adalah orang atau benda yang menjadi objek pandangan.

5. Dalil tentang Penyakit ‘Ain

5.1 Dalil Al-Qur’an tentang ‘Ain

Al-Qur’an memberikan isyarat yang jelas tentang adanya pengaruh hasad, dengki, dan pandangan mata yang dapat menimbulkan keburukan, serta perintah untuk berlindung darinya. Di antara ayat-ayat yang dijadikan dasar pembahasan penyakit ‘ain adalah sebagai berikut:

5.1.1 QS. Al-Falaq (113): Ayat 5

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Terjemah:

“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”

Ayat ini menunjukkan bahwa hasad memiliki dampak buruk dan seorang muslim diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari kejahatan yang timbul akibat kedengkian, termasuk di dalamnya penyakit ‘ain.

5.1.2 QS. Yusuf (12): Ayat 67

وَقَالَ يَا بَنِيَّ لَا تَدْخُلُوا مِنْ بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُوا مِنْ أَبْوَابٍ مُتَفَرِّقَةٍ وَمَا أُغْنِي عَنكُم مِّنَ ٱللَّهِ مِن شَيْءٍ إِنِ ٱلْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُتَوَكِّلُونَ

Terjemah:

“Dan Ya‘qub berkata, ‘Wahai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu, tetapi masuklah dari pintu-pintu yang berbeda-beda. Namun aku tidak dapat melepaskan kamu sedikit pun dari takdir Allah. Keputusan itu hanyalah milik Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya hendaklah orang-orang yang bertawakal berserah diri.’”

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa anjuran Nabi Ya‘qub عليه السلام agar anak-anaknya masuk dari pintu yang berbeda adalah bentuk ikhtiar untuk menghindari pandangan mata (‘ain), karena mereka dikenal tampan dan berjumlah banyak.

5.1.3 QS. Al-Kahfi (18): Ayat 39

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِ

Terjemah:

“Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan: ‘MasyaAllah, tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.’”

Ayat ini menjadi dalil dianjurkannya menyebut nama Allah dan mengakui bahwa segala nikmat berasal dari-Nya, sebagai bentuk perlindungan dari ‘ain dan hasad.

5.2 Dalil Hadis tentang Penyakit ‘Ain

5.2.1 Hadis tentang Hakikat ‘Ain

الْعَيْنُ حَقٌّ، وَلَوْ كَانَ شَيْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ لَسَبَقَتْهُ الْعَيْنُ

Terjemah:

“Penyakit ‘ain itu benar adanya. Seandainya ada sesuatu yang dapat mendahului takdir, niscaya ‘ainlah yang mendahuluinya.”

(HR. Muslim)

5.2.2 Makna Hadis

Hadis ini menegaskan secara tegas bahwa penyakit ‘ain adalah sesuatu yang nyata, bukan mitos, khurafat, atau sekadar sugesti. Ungkapan “seandainya ada sesuatu yang dapat mendahului takdir” menunjukkan betapa besar dampak ‘ain, namun tetap berada di bawah kehendak dan izin Allah.

6. Kisah Sahabat tentang ‘Ain (Hadis Sahih)

Kisah-kisah para sahabat radhiyallahu ‘anhum menjadi bukti nyata bahwa penyakit ‘ain benar-benar terjadi dan dialami oleh orang-orang saleh, bahkan di masa Rasulullah ﷺ.

6.1 Kisah Sahl bin Hunaif dan ‘Amir bin Rabi‘ah

Suatu hari, Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu mandi dan memiliki kulit yang sangat putih serta indah. ‘Amir bin Rabi‘ah radhiyallahu ‘anhu melihatnya, lalu mengungkapkan kekagumannya tanpa menyebut nama Allah dan tanpa mendoakan keberkahan.

Tidak lama setelah itu, Sahl bin Hunaif langsung jatuh sakit dan pingsan.

6.1.1 Teguran Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Mengapa salah seorang di antara kalian membunuh saudaranya? Jika salah seorang di antara kalian melihat sesuatu yang mengagumkan, hendaklah ia mendoakan keberkahan.”

(HR. Malik, Ahmad, dan Abu Dawud)

6.1.2 Metode Penyembuhan yang Diajarkan Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ kemudian memerintahkan ‘Amir bin Rabi‘ah untuk berwudu. Air bekas wudunya dikumpulkan dan disiramkan ke tubuh Sahl bin Hunaif.

Dengan izin Allah, Sahl bin Hunaif pun sembuh dari penyakit ‘ain yang menimpanya.

6.2 Kisah Anak-anak Ja‘far bin Abi Thalib dan ‘Ain

Asma’ binti ‘Umais radhiyallahu ‘anha pernah membawa anak-anak Ja‘far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Rasulullah ﷺ. Anak-anak tersebut tampak kurus dan lemah.

6.2.1 Pertanyaan Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ bertanya:

“Mengapa aku melihat tubuh anak-anak saudaraku ini kurus?”

Asma’ menjawab:

“Wahai Rasulullah, mereka terkena ‘ain.”

6.2.2 Perintah Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ruqyahlah mereka, karena sesungguhnya ‘ain itu benar adanya.”

(HR. Muslim no. 2198)

6.3 Pelajaran dari Kisah Para Sahabat

Kisah-kisah ini memberikan beberapa pelajaran penting:

  • Penyakit ‘ain benar-benar terjadi dan bukan sekadar dugaan.
  • ‘Ain bisa terjadi dari sesama muslim, bahkan dari orang yang saleh, tanpa niat buruk sekalipun.
  • Kekaguman yang tidak disertai doa keberkahan dapat menimbulkan dampak buruk.
  • Islam mengajarkan solusi syar‘i, seperti doa, ruqyah syar‘iyyah, dan adab memuji, bukan ketakutan berlebihan.

7. Apakah Pelaku ‘Ain Selalu Orang Jahat?

Pertanyaan ini penting untuk meluruskan pemahaman yang keliru di tengah masyarakat bahwa pelaku ‘ain selalu berasal dari orang yang berniat buruk.

7.1 Pelaku ‘Ain Bisa Orang Baik

Pelaku ‘ain tidak selalu orang jahat. ‘Ain dapat terjadi karena pandangan yang disertai:

  • Rasa iri
  • Rasa dengki
  • Kekaguman yang berlebihan
  • Kekaguman tanpa menyebut nama Allah

Bahkan, ‘ain dapat berasal dari orang saleh atau orang baik yang tidak memiliki niat buruk, namun lalai menyebut nama Allah atau mendoakan keberkahan ketika melihat sesuatu yang mengagumkan.

7.1.1 Hikmah di Balik Hal Ini

Hikmah dari adanya penyakit ‘ain adalah Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga adab lisan dan hati, terutama ketika mengagumi nikmat yang ada pada orang lain.

Seorang muslim dianjurkan untuk mengiringi rasa kagum dengan doa keberkahan, seperti mengucapkan “MasyaAllah, tabarakallah”, agar kekaguman tersebut tidak berubah menjadi sebab keburukan bagi orang lain.

8. Cara Mencegah Penyakit ‘Ain

Islam tidak hanya menjelaskan hakikat penyakit ‘ain, tetapi juga memberikan tuntunan praktis untuk mencegahnya melalui adab, doa, dan zikir.

8.1 Bagi Orang yang Melihat (Adab Melihat dan Memuji Nikmat)

Seseorang yang melihat sesuatu yang mengagumkan dianjurkan untuk segera menyebut nama Allah dan mendoakan keberkahan, agar kekaguman tersebut tidak menimbulkan dampak buruk.

8.1.1 Ucapan yang Benar Saat Kagum

  • اللَّهُمَّ بَارِكْ

    Allahumma bārik

    “Ya Allah, limpahkanlah keberkahan.”

  • مَا شَاءَ اللَّهُ

    Mā shā’ Allāh

    “Ini adalah kehendak Allah.”

  • لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

    Lā quwwata illā billāh

    “Tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

  • لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

    Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh

    “Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

Ucapan-ucapan ini merupakan adab syar‘i yang dianjurkan ketika melihat nikmat pada diri orang lain, baik berupa fisik, harta, keluarga, maupun keberhasilan. Ucapan tersebut berfungsi sebagai bentuk doa dan perlindungan, yang dengan izin Allah melindungi orang atau benda yang dilihat dari dampak penyakit ‘ain.

8.2 Bagi Orang yang Dikhawatirkan Terkena ‘Ain

Bagi seseorang yang merasa dikhawatirkan terkena penyakit ‘ain, Islam menganjurkan untuk memperbanyak zikir, doa perlindungan, dan tawakal kepada Allah.

8.2.1 Bentuk Perlindungan yang Dianjurkan

Beberapa bentuk perlindungan yang dianjurkan dalam Islam untuk mencegah penyakit ‘ain antara lain:

  • Membaca zikir pagi dan petang secara rutin
  • Membaca Surah Al-Fatihah
  • Membaca Ayat Kursi
  • Membaca Surah Al-Ikhlas
  • Membaca Surah Al-Falaq
  • Membaca Surah An-Nas

Selain itu, Rasulullah ﷺ juga mengajarkan doa perlindungan yang sangat dianjurkan untuk dibaca, terutama ketika merasa khawatir akan gangguan ‘ain.

Doa Perlindungan:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

A‘ūdzu bi kalimātillāhit-tāmmāti min syarri mā khalaq

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan segala makhluk yang Dia ciptakan.”

Amalan-amalan tersebut merupakan bentuk perlindungan diri yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ untuk menjaga seorang muslim dari gangguan ‘ain, hasad, dan keburukan makhluk, dengan tetap disertai keyakinan dan tawakal kepada Allah.

9. Penulisan Lafaz Doa pada Rumah dan Bangunan dalam Tradisi Masyarakat Muslim

Dalam tradisi masyarakat Muslim, khususnya di negeri-negeri Arab dan wilayah Muslim lainnya, sering dijumpai penulisan lafaz-lafaz doa atau dzikir pada rumah dan bangunan. Penulisan tersebut dapat ditemukan di atas pintu rumah, di ruang tamu, pada bangunan baru, atau bahkan pada kendaraan seperti mobil dan bus.

Tulisan MasyaAllah dipasang sebagai ungkapan pengakuan bahwa seluruh nikmat, keindahan, dan keberkahan berasal dari Allah SWT, serta sebagai bentuk adab agar kekaguman dan pujian tidak menimbulkan dampak buruk seperti penyakit ‘ain.

Di rumah-rumah di Arab dan negeri Muslim lainnya, juga sering ditemukan berbagai lafaz dan bacaan, antara lain:

  • ما شاء الله (MasyaAllah)
  • تبارك الله (Tabārakallāh)
  • بسم الله (Bismillāh)
  • لا قوة إلا بالله
  • Ayat Kursi
  • Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas
  • Hadis atau doa-doa perlindungan

Praktik penulisan lafaz doa ini bukan merupakan kewajiban syariat, melainkan bagian dari tradisi dan adab yang dibolehkan dalam Islam. Praktik tersebut bernilai pengingat dan didasarkan pada prinsip syar’i untuk senantiasa menyebut nama Allah serta memohon perlindungan kepada-Nya.

Dalil yang sering dijadikan dasar pemahaman makna adab ini, bukan sebagai perintah untuk menulis, adalah firman Allah SWT:

“Mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan MasyaAllah, lā quwwata illā billāh.”
(QS. Al-Kahfi: 39)

Dalam pemahaman Islam, efektivitas perlindungan dari penyakit ‘ain tidak terletak pada tulisan itu sendiri, melainkan pada ucapan, niat, doa, dan tawakal kepada Allah SWT. Tulisan berfungsi sebagai pengingat, bukan sebagai jimat, dan tetap harus disertai adab lisan serta kesadaran spiritual.

10. Kesimpulan (Penutup)

10.1 Ringkasan Akhir

Penyakit ‘ain merupakan sesuatu yang nyata dan diakui dalam ajaran Islam. Dampaknya menimpa pihak yang dilihat atau dipuji, baik manusia maupun benda, bukan orang yang melihat atau memuji.

‘Ain dapat terjadi akibat pandangan yang disertai kekaguman, iri, hasad, atau kelalaian dalam menyebut nama Allah, baik disengaja maupun tidak disengaja. Oleh karena itu, Islam menekankan pentingnya adab lisan dan hati saat melihat sesuatu yang menimbulkan rasa kagum.

10.2 Pesan Penting

Pencegahan utama dari penyakit ‘ain adalah dengan membiasakan menyebut nama Allah, mendoakan keberkahan, serta memperbanyak zikir dan doa perlindungan. Dengan menjaga lisan dan hati saat memuji atau merasa kagum, seorang Muslim telah melindungi saudaranya dari dampak ‘ain dan sekaligus menjaga dirinya dari kelalaian dan dosa.

Semua keindahan, kenikmatan, dan keberhasilan pada hakikatnya hanyalah titipan dari Allah ﷻ, dan hanya dengan izin-Nya segala sesuatu dapat terjadi.

10.3 Catatan Penutup

  • ✔️ Penulisan lafaz MasyaAllah pada rumah dan bangunan merupakan praktik yang ada dan lazim.
  • ✔️ Tujuannya sebagai pengingat, adab, dan perlindungan maknawi.
  • ❌ Praktik tersebut bukan kewajiban syariat dan bukan jimat.
  • ✔️ Tradisi ini berlaku luas di dunia Muslim, tidak terbatas pada masyarakat Arab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Subjek, Materi, Topik, Subtopik, Bahasan

Perbedaan Subjek, Materi, Topik, Subtopik, dan Bahasan/Butir dalam Pembelajaran Struktur Penyusunan Materi Pembelajaran Memahami Perbedaan Subjek, Materi, Topik, Subtopik, dan Bahasan/Butir Dalam konteks pembelajaran, jika dilihat dari hierarki umum mulai dari konsep yang lebih luas hingga yang lebih spesifik, urutannya adalah: Subjek (Sinonim: Bidang, Disiplin Ilmu) Subjek merujuk pada bidang utama atau disiplin ilmu yang dipelajari, seperti Matematika, Biologi, atau Sejarah. Materi (Sinonim: Isi, Bahan Ajar, Konten) Materi adalah isi atau bahan ajar yang terkait dengan subjek tertentu, seperti persamaan kuadrat dalam Matematika atau sistem pencernaan dalam Biologi. Topik (Sinonim: Pokok Bahasan, Tema, Isu) Topik adalah bagian spesifik dari ma...

Perbedaan Level Kemampuan Bahasa

Panduan Lengkap Level Kemampuan Bahasa: CV, CEFR A1–C2, Dunia Kerja, dan Tes Bahasa Internasional Level Kemampuan Bahasa: Dunia Kerja & Pendidikan 1️⃣ Pengantar Pengelompokan level kemampuan bahasa digunakan untuk menggambarkan sejauh mana seseorang dapat memahami, berbicara, membaca, dan menulis dalam suatu bahasa. Perlu dipahami bahwa tidak ada satu standar tunggal yang mengatur jumlah maupun penamaan level kemampuan bahasa, karena pengelompokan tersebut berkembang sesuai kebutuhan penggunaan, baik secara formal maupun informal . Dalam konteks percakapan sehari-hari dan penulisan CV, level kemampuan bahasa sering disederhanakan menjadi istilah seperti Basic , Conversational , Fluent , atau Native . Pengelompokan ini bersifat praktis dan mudah dipahami, namun tidak selalu mencerminkan kemampuan bahasa secara terukur dan objektif. Untuk keperluan akademik, pendidikan, sertifikasi, dan kebutuhan profesiona...

Pembagian Waktu Indonesia, AM, dan PM dalam 24 jam

Pembagian Waktu Indonesia, AM, dan PM Zona Waktu Indonesia (WIB, WITA, WIT), AM, dan PM Indonesia menggunakan tiga zona waktu resmi: WIB , WITA , dan WIT . Selain itu, dalam kehidupan sehari-hari kita juga mengenal pembagian waktu seperti pagi, siang, sore, dan malam, yang dalam bahasa Inggris disetarakan dengan morning , afternoon , evening , dan night . Istilah AM dan PM menunjukkan waktu sebelum dan sesudah tengah hari. Perlu dipahami bahwa tengah hari (12:00) secara umum termasuk dalam “siang” . Indonesia membentang cukup luas dari barat ke timur sehingga dibagi menjadi tiga zona waktu. Pembagian ini mengikuti standar internasional UTC (Coordinated Universal Time) . WIB (UTC+7) — Wilayah Barat Indonesia Meliputi: Sumatra, Jawa, Bali, Madura, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah. Contoh waktu: Jika di UTC pukul 10:00, maka di WIB pukul 17:00 . W...